Kabut Senja

0
Mereka tewas dengan sebuah lubang peluru di tengkuk…

YUSUP SUPARDI terdiam sejenak. Kepalanya yang dipenuhi salju waktu agak tefekur, membuat matanya seolah ingin menembus tembok lantai. Ia menghela nafas panjang, tersenyum tipis dan berusaha kembali menguasai keadaan.  “ Maaf, saya selalu merasa sedih jika mengingat lagi peristiwa itu,” ujar lelaki kelahiran Sukabumi, 90 tahun yang lalu tersebut seraya mengangkat kepalanya lagi.
Tahun 1948, Yusup adalah seorang prajurit muda dari Bataliyon Kala Hitam Divisi Siliwangi. Berbeda dengan sebagian besar kawan-kawannya yang dikirim untuk berhijrah ke Yogyakarta akibat pemberlakuan Perjanjian Renville saat itu, ia justru ditugaskan untuk tetap bertahan di wilayah Sukabumi dan Cianjur.
“ Tentu saja kami bergerak bukan atas nama Siliwangi lagi, tapi sebagai “kesatuan liar” di daerah pendudukan Belanda,”kenangnya sambil terkekeh.
Sebagaimana ditulis dalam Siliwangi dari Masa ke Masa (ditulis oleh Sedjarah Militer Daerah Militer VI Siliwangi/Sendam VI Siliwangi pada 1968), hasil kesepakatan Perjanjian Renville memang diterima dengan setengah hati oleh pihak tentara. Kendati pada akhirnya menerima keputusan untuk mengosongkan Jawa Barat, namun secara diam-diam, Panglima Besar Jenderal Soedirman sendiri telah menugaskan Letnan Kolonel Soetoko untuk tetap mengkoordinasikan perlawanan bersenjata di tanah Pasundan.
Lewat Letnan Kolonel Soetoko (akhirnya tertangkap Belanda pada Agustus 1948) inilah kemudian muncul Brigade Tjitarum, sebagai induk pasukan dari beberapa kesatuan tempur yang diperkuat oleh “mantan para prajurit Siliwangi” yang masih tinggal di Jawa Barat. Yusup adalah salah satu dari ribuan prajurit yang secara sengaja ditanam oleh Jenderal Soedirman di Jawa Barat tersebut.
Sebagai prajurit di front terdepan, beberapa kali Yusup nyaris disergap maut. Pada pertengahan 1947, ia pernah nekat terjun ke jurang karena menghindari kepungan satu kompi pasukan Belanda di wilayah Gandasoli. Bebeberapa bulan kemudian, di Gekbrong (jalur Sukabumi-Cianjur) Yusup yang ditempatkan sebagai  anggota telik sandi di Yon Kala Hitam, hampir saja dihabisi seorang serdadu KNIL berkebangsaan Sunda.
“ Namun semua itu tak ada artinya kalau dibandingkan pengalaman saya yang satu itu,”ujar ayah dari delapan anak tersebut. Lantas peristiwa apa yang bisa membuatnya bersedih itu?
Bergerak Menuju Takokak
Perintah itu turun begitu tiba-tiba pada suatu hari di pertengahan 1948. Bersama empat prajurit telik sandi lainnya, Yusup ditugaskan oleh sang komandan untuk membuktikan kebenaran informasi yang mengabarkan tentang adanya peristiwa pembersihan sekaligus pembantaian sejumlah kaum republiken oleh militer Belanda di Takokak.
Takokak adalah nama suatu kawasan yang terletak kira-kira 75 km di selatan Cianjur. Sejak zaman Hindia Belanda,
  • SAKSI SEJARAH. Yusup Supardi, yang menjadi saksi pembantaian kaum republik di Takokak (foto:hendijo)SAKSI SEJARAH. Yusup Supardi, yang menjadi saksi pembantaian kaum republik di Takokak (foto:hendijo)

kawasan yang berbatasan langsung dengan wilayah Sukabumi itu merupakan daerah perkebunan teh yang memiliki kontur pegunungan serta dipenuhi hutan dan jurang. Pasca Jepang takluk kepada Sekutu pada Agustus 1945, seperti umumnya perkebunan-perkebunan lain di seluruh Indonesia, pengelolaan Perkebunan Teh Takokak kembali diserahkan NICA (Pemerintah Sipil Hindia Belanda) kepada para administrator berkebangsaan Belanda. Untuk mengamankan perkebunan-perkebunan itu, NICA lantas membentuk satuan-satuan pengaman yang diberi nama OW (Onderneming Wacht atau Penjaga Perkebunan). Dalam buku Korps Komando AL: Dari Tahun ke Tahun (1971), disebutkan personil OW terdiri dari para pemuda bumiputera yang dilatih oleh Polisi NICA dan KNIL.
Bergerak diam-diam dari wilayah Sukabumi dengan sebuah truk peninggalan militer Jepang, Yusup dan kawan-kawan menyusuri 35 km jalan menuju Takokak lepas tengah malam. “Kami harus jalan merayap dan tidak menggunakan jalan raya karena menghindari pertemuan dengan patroli militer Belanda atau para OW,” kenang Yusup.
Mengaevakuasi Korban Pembantaian
Sekitar pukul 06.00, mereka sudah memasuki kawasan Takokak. Sang penunjuk jalan (sayang Yusup mengaku lupa namanya) lantas mengarahkan kendaraan menuju wilayah bernama Ciwangi. Begitu sampai di satu dataran tinggi yang ditumbuhi pohon teh, sekonyong-konyong ia meminta sopir untuk menghentikan truk. “ Di sinilah tempat pembantaian itu,”ujarnya setengah berbisik.
Mereka lantas berloncatan dari truk. Setelah sejenak melakukan rapat kilat, mereka lalu berjalan menuju rimbunan pohon teh. Bau busuk menyengat disebar angin gunung yang bertiup pelan. Tepat sekitar 20 meter dari pinggir jalan, di sebuah parit yang memisahkan dua kebun teh, suatu pemandangan memilukan terhampar.
Ada lima mayat lelaki yang sudah membusuk berserakan di dasar parit. Semua jasad, tangannya masih dililit  tali yang terbuat dari daun nanas gunung. Yang paling menyedihkan, tubuh mereka yang sudah mengembung itu dihiasi luka tembak sebesar buah duku di tengkuk masing-masing.
“Saya pastikan mereka tewas karena tembakan jarak dekat langsung ke mulut..”ujar Yusup.
Tidak hanya di Ciwangi, saat mereka melalui perkebunan teh di kawasan Cikawung, sembilan mayat kembali mereka saksikan bergelimpangan di parit-parit kebun teh. Kondisi jasad-jasad tak bernyawa itu tak jauh beda dengan 5 mayat yang mereka temukan di Ciwangi: sudah membusuk dengan tengkuk menganga tertembus peluru.
“Kami mendapatkan mereka di rimbunan pepohonan yang sudah terbakar. Sepertinya tentara Belanda membakar pohon-pohon itu sebelum menembak para tawanan tersebut.Entah apa maksudnya,”kata Yusup.
Satu persatu, mayat-mayat itu kemudian diangkut secara hati-hati ke atas truk. Menjelang malam, dengan membawa 14 mayat, mereka kembali lagi ke Cianjur. Untuk menghindari pencegatan musuh, mereka menggunakan rute yang berbeda dengan saat mereka datang. Besoknya mayat-mayat itu dikebumikan di kawasan yang sekarang menjadi Taman Makam Pahlawan Cianjur. Tentunya tak ada nama dituliskan di nisan mereka.

Posting Komentar

 
Top